Minggu, 29 Juni 2025

Peringatan HKN di Cimahi, Sorotan pada Kinerja ASN, Bukan Seremonial Semata

Peringatan HKN di Cimahi, Sorotan pada Kinerja ASN, Bukan Seremonial Semata


SURAT KABAR, CIMAHI – Peringatan Hari Keluarga Nasional (HKN) yang digelar setiap tanggal 17 oleh aparatur pemerintahan kerap dianggap sebagai rutinitas seremonial. Namun Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, menegaskan bahwa momen ini harus menjadi ajang evaluasi kinerja dan peneguhan komitmen pelayanan publik, bukan sekadar baris-berbaris formalitas belaka.

“Peringatan ini bukan sekadar seremonial biasa, namun membangun sinergitas lintas sektor guna meningkatkan kinerja pelayanan publik,” tegas Ngatiyana usai upacara HKN di Lapangan Apel Pemkot Cimahi, Senin (30/6/2025).

Ngatiyana menekankan pentingnya menumbuhkan empati di lingkungan kerja antar-pegawai, sejalan dengan amanat Panca Prasetya Korpri, yang menurutnya bukan hanya dokumen normatif, tapi harus menjadi pedoman etis dan operasional ASN dalam menjalankan tugas.

“Mari kita wujudkan Panca Prasetya Korpri dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan kerja kita,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti kolaborasi lintas sektor, khususnya dengan BPJS Ketenagakerjaan, dalam program 

“Sejahterakan Pekerja Sekitar Anda (Sertakan ASN)”. Program ini memberikan jaminan kematian bagi pekerja rentan-langkah yang disebut Ngatiyana sebagai bentuk nyata ASN peduli terhadap masyarakat di sekitarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Pemkot Cimahi juga memberikan penghargaan kepada sepuluh organisasi perangkat daerah (OPD) yang menunjukkan kinerja birokrasi terbaik sepanjang tahun. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) menempati posisi teratas dengan skor evaluasi mencapai 88,13 poin.

“Mereka meraih kinerja dengan kategori nilai sangat baik. Diskominfo menduduki peringkat pertama dengan skor 88,13,” ungkap Ngatiyana.

Namun, ia dengan tegas memperingatkan bahwa penghargaan bukanlah garis akhir. Kinerja harus terus ditingkatkan, dan reward bukan alasan untuk puas diri.

“Bagi yang mendapatkan reward, jangan berpuas diri. Tahun depan harus lebih baik lagi. Sebagai tanda kanyaah kadisnya pada jajarannya, ya minimal potong kambing lah,” selorohnya sambil tersenyum.

Ngatiyana kembali mengingatkan bahwa ASN bukan sekadar pekerja pemerintahan, tapi pengabdi negara. Karena itu, semangat pelayanan publik dan kesadaran moral melalui Panca Prasetya Korpri harus tertanam dalam hati.

“Sekali lagi, kami mengajak: mari kita tanamkan Panca Prasetya Korpri di hati kita,” pungkasnya.

Di tengah sorotan publik terhadap kinerja birokrasi yang kerap dinilai lamban dan tidak responsif, peringatan HKN seharusnya menjadi momentum serius untuk introspeksi dan transformasi layanan publik. (SAT)

Jumat, 27 Juni 2025

Narash, Bocah BMX dari Cimahi yang Menolak Takut dan Menjawab Tantangan Ekstrem

Narash, Bocah BMX dari Cimahi yang Menolak Takut dan Menjawab Tantangan Ekstrem

SURAT KABAR, CIMAHIDi saat anak-anak seusianya asyik tenggelam dalam games atau gim daring dan tutorial YouTube, Narash Abraar Kasogi memilih jalur yang lebih penuh risiko dan keberanian. 

Siswa kelas 2 SDN Cibabat Mandiri 1 Kota Cimahi ini menghabiskan akhir pekannya di lintasan-lintasan BMX, mengayuh dengan sepeda kecilnya di antara rintangan yang menantang dan tatapan kagum para penonton.

Baginya, BMX bukan sekadar hobi. Ini adalah panggilan, petualangan, sekaligus panggung untuk menyalurkan semangat dan rasa ingin tahu. 

Aku senang banget punya keluarga yang selalu dukung. Papa dan Ibu selalu nemenin ke mana pun aku lomba. Teman-teman komunitas juga baik, suka kasih tips dan nggak pelit ilmu," kata Narash dengan antusias, Jum'at (27/6/25).

Bukan hanya dorongan keluarga, komunitas di berbagai skatepark seperti Velodrome, Pandawa Bowl, hingga Bale Pare Bike Park juga berperan besar dalam membentuk semangatnya. Ia belajar banyak dari mereka, bukan hanya soal teknik, tetapi juga sikap sportif dan ketahanan mental.

Aku pengen anak-anak di Cimahi nggak takut buat cobain BMX. Walaupun susah di awal, tapi kalau udah bisa mah, dijamin seru banget!” ucapnya. 

Narash menekankan pentingnya keberanian mencoba, latihan tanpa henti, dan keselamatan. 

Jangan lupa pakai pelindung, helm dan decker biar aman," kata bocah berusia 9 tahun itu.

Pada tahun 2023, nama Narash mulai terdengar lebih luas setelah tampil di ajang PORTUE Bandung Championship, kejuaraan BMX freestyle tingkat nasional. 

Ia adalah satu-satunya peserta berusia 7 tahun di kelas Junior yang diisi atlet remaja belasan tahun. Meski belum mahir menguasai banyak trik, keberanian dan tekad Narash mencuri perhatian juri dan penonton.

Di tahun berikutnya, pada Pumptrack Bike Competition 2024 di Bale Pare Bike Park, Narash kembali unjuk kemampuan. Baru kali kedua ia menjajal lintasan itu, dan nyaris terjatuh di awal lomba. 

Tapi ia mampu bertahan, mengayuh hingga finis, dan meraih juara dua di kelas BMX Boys Junior (kategori usia 8 tahun).

Aku pengen ikut kejuaraan besar kayak X-Games,” ucapnya suatu kali, menunjukkan bahwa di balik tubuh kecilnya tersimpan mimpi besar.

Namun perjalanan Narash tak selamanya mulus. Sang ibu, Nissa (36), mengingat momen pertamanya ikut lomba balance bike pada tahun 2021. Waktu itu usianya baru tiga tahun.

Dia tiba-tiba mogok di tengah lintasan, nggak mau lanjut. Saya sampai panggil-panggil dari pinggir arena sambil nawarin uang jajan, baru deh dia mau jalan lagi,” kenang Nissa sambil tertawa. 

Setelah finis, Narash langsung lari ke tukang mainan bukan untuk merayakan kemenangan, tapi menukar usaha kecilnya dengan mainan yang sudah diincar.

Sebagai orang tua, Nissa tak menutupi rasa khawatirnya. Menurutnya BMX termasuk olahraga ekstrem, jadi pasti ada rasa takut. 

"Tapi karena Papanya berasal dari dunia yang sama, kami jadi paham bagaimana mendampingi dan menjaga keselamatan,” jelasnya. 

Helm dan pelindung wajib dikenakan, tegas Nissa. Tapi lebih dari itu, mereka ingin memastikan Narash menjalani semua ini dengan hati yang bahagia.

Ia juga menyebut momen-momen bonding antara Narash dan ayahnya sebagai hal yang sangat berharga.

Mereka sering bareng latihan di berbagai skatepark. Bukan hanya jadi tempat main, tapi juga tempat mereka saling belajar, mendukung, dan membangun kepercayaan diri," imbuhnya.

Soal masa depan, keluarga Narash memilih untuk fleksibel. Jika Narash kelak ingin serius menekuni dunia BMX, mereka siap mendukung. Tapi jika arah hidupnya berubah, mereka akan tetap menjadi pendukung utama.

Kami percaya setiap anak punya jalan hidupnya sendiri. Tugas kami adalah mendampingi dengan cinta dan perhatian yang konsisten,” kata Nissa.

Ia berharap Narash tak hanya berkembang di jalur prestasi, tetapi juga tumbuh menjadi anak yang berani, tangguh, dan percaya diri

Dunia BMX mungkin jadi tempat Narash memulai, tapi nilai-nilai yang ia bawa dari lintasan itu jauh lebih penting tentang keberanian menghadapi tantangan, kegigihan saat jatuh, dan semangat untuk bangkit lagi.

Dari seorang anak kecil yang dulu harus 'disogok' agar mau menyelesaikan lomba, Narash kini jadi simbol harapan baru bagi anak-anak Cimahi yang ingin mengambil jalur tak biasa. Dan mungkin, kelak, ia akan jadi wajah muda BMX Indonesia. (SAT)

Nama Tokoh Lokal Akan Diabadikan, Pemkot Cimahi Terima Usulan Fopdar Ganti Nama Jalan

Nama Tokoh Lokal Akan Diabadikan, Pemkot Cimahi Terima Usulan Fopdar Ganti Nama Jalannama tokoh lokal akan diabadikan, pemkot cimahi terima usulan fopdar ganti nama jala

SURAT KABAR, CIMAHI – LSM Forum Pemerhati Daerah (Fopdar) mendesak Pemerintah Kota Cimahi agar merealisasikan sejumlah usulan kebijakan melalui pengelolaan internal anggaran daerah. Dalam audiensi yang digelar Kamis (26/6/2025) lalu, Fopdar menekankan, sebagian besar poin yang mereka sampaikan dapat dijalankan langsung tanpa menunggu bantuan eksternal karena cakupannya berada di bawah kewenangan dan alokasi APBD Cimahi.

“Tentunya kita akan kawal. Kalau pengendaliannya bisa dilakukan secara internal seperti penamaan jalan, literasi, beasiswa itu bisa dikendalikan dari APBD. Tapi kalau penataan wilayah, kita belum tentu bisa segera menjanjikan,” ujar Sekretaris LSM Fopdar, Usman Ramdan, kepada awak media usai pertemuan.

Dalam forum tersebut, Fopdar memaparkan tujuh usulan utama yang mencakup penghormatan terhadap tokoh lokal melalui penggantian nama jalan, penyusunan literatur sejarah Cimahi, program beasiswa, hingga perbaikan rumah tokoh pejuang yang telah wafat. 

Usulan ini, menurut Usman, dapat segera ditindaklanjuti oleh Pemerintah Kota Cimahi karena tidak memerlukan proses lintas otoritas.

“Tadi membahas tentang tujuh poin, mulai dari penghargaan kepada dua nama tokoh untuk diabadikan sebagai nama jalan, literasi buku perjuangan, pengembangan SDM melalui beasiswa, perluasan wilayah, kemudian tentang perbaikan rumah almarhum Pak Ade Fatah,” ungkapnya.

Salah satu poin yang paling disorot adalah usulan perubahan nama Jalan Jati Serut menjadi Jalan Sudarna TM dan Jalan Lurah menjadi Jalan Dan Suganda. Fopdar menilai langkah ini sebagai bentuk konkret penghargaan terhadap kontribusi tokoh-tokoh lokal.

“Nama jalan akan ditindaklanjuti dengan pembuatan papan nama jalan, kemudian beasiswa juga sudah direspons, terkait literasi juga akan ditindaklanjuti. Ini artinya Pemkot Cimahi begitu responsif,” katanya.

Dengan adanya respons terbuka dari Wakil Wali Kota, Fopdar menyatakan optimismenya bahwa mayoritas usulan tersebut bisa dijalankan dalam waktu dekat. Terlebih, mayoritas kebijakan berada dalam lingkup internal kota, sehingga tidak terhambat proses lintas institusi.

“Kalau penamaan jalan, literasi, beasiswa itu bisa dikendalikan dari APBD,” tegas Usman.

Menanggapi berbagai usulan tersebut, Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, menyatakan apresiasi dan menyambut baik masukan yang disampaikan Fopdar. Menurutnya, pemerintah tidak bisa mengesampingkan akar sejarah dalam proses pembangunan kota.

“Alhamdulillah sangat bahagia mendapatkan tugas Pak Wali Kota menerima audiensi LSM Fopdar. Mudah-mudahan ini menjadi masukan bagi jalannya pemerintah Kota Cimahi. Cimahi Bihari (dahulu), Cimahi Kiwari (sekarang), dan Cimahi masa depan harus saling berkaitan dan tidak saling melepaskan,” kata Adhit.

Salah satu usulan yang langsung disetujui secara prinsip oleh pemerintah adalah pembakuan literasi sejarah Kota Cimahi, yang disebut sangat penting untuk kepentingan pendidikan dan dokumentasi jangka panjang.

“Ini penting untuk menjadi sebuah literatur baku dan sampai kapan pun ketika ada orang-orang yang memerlukan literasi tentang Kota Cimahi, naskahnya sudah baku,” jelas Adhit.

Namun, untuk usulan seperti penataan wilayah, Fopdar mengakui adanya keterbatasan karena menyangkut aspek administratif dan hukum tata ruang yang lebih kompleks.

Menurut Adhitia, pembakuan literasi sejarah Kota Cimahi mendesak dilakukan agar dapat menjadi rujukan resmi bagi siapa pun yang membutuhkan, terutama generasi muda.

"Ini penting agar Cimahi memiliki literatur baku. Jadi, kapan pun orang mencari referensi tentang Cimahi, naskahnya sudah tersedia dan terstandar," ujar Adhit. (SAT)

Freestyle BMX Jadi Panggung Ekspresi: Kisah Narash, Bocah dari SDN Cibabat Mandiri 1 Cimahi

Freestyle BMX Jadi Panggung Ekspresi: Kisah Narash, Bocah Kidal dari SMPN Cibabat Mandiri 1 Cimahi

SURAT KABAR, CIMAHI – Di tengah hiruk pikuk rutinitas anak-anak sekolah dasar dan menengah pertama yang gemar bermain gawai, make-up tutorial, atau masak-masakan, seorang anak laki-laki dari Kota Cimahi justru memilih jalur yang jauh berbeda. 

Namanya Narash Abraar Kasogi, siswa kelas 2 yang akan naik ke kelas 3 SDN Cibabat Mandiri 1 Kota Cimahi. Hobinya bukan hanya unik, tapi juga ekstrem untuk ukuran usianya, freestyle BMX.

Sejak masih bayi, Narash sudah akrab dengan dunia sepeda, khususnya BMX. Bukan kebetulan ayahnya, Andi Maulana Kasogi, adalah seorang pegiat BMX aktif di komunitas BDG BMX dan tergabung dalam Asosiasi BMX Indonesia (ABI) di bawah KORMI Jawa Barat.

"Sejak kecil, Narash sudah terbiasa melihat Papanya latihan, memodifikasi sepeda, dan main di skatepark," cerita sang ibu, Nissa (36), saat diwawancara melalui sambungan telepon, Sabtu (27/6/2025).

Bahkan, lanjut Nissa, sejak bayi Narash sudah kerap ikut menemani ayahnya saat pembangunan Velodrome Munaip Shaleh di Padasuka, Cimahi, yang kini menjadi arena latihan BMX dan skateboarding. Di tempat itulah Narash pertama kali belajar berjalan dan tak lama kemudian, bersepeda.

Tak mengherankan jika bocah ini mendapat julukan 'kuncen Velodrome Cimahi'. Ia tumbuh dan besar di tengah lingkungan roda dua, menyerap atmosfer komunitas seperti spons menyerap air.

"Narash mulai main balance bike sejak usia 2 tahun. Umur 3,5 tahun dia sudah bisa naik BMX sungguhan," kata Nissa bangga. 

"Dia anak yang aktif, cepat beradaptasi, dan koordinasi tubuhnya luar biasa. Apalagi dia kidal, jadi beberapa gerakannya unik dan beda dari anak-anak lain," sambung Nissa.

Sementara itu, menurut Narash yang juga bergabung dengan komunitas Velodrome Balance Bike, tempat ia memperkuat dasar-dasar keseimbangan sebelum fokus pada freestyle BMX. Sang ayah menjadi pelatih utamanya.

Ketika anak-anak lain memilih mengoleksi stiker atau bermain game daring, Narash justru memilih arena beton dengan tanjakan dan rintangan.

"Karena dari kecil sudah terbiasa lihat Papa main BMX, jadi aku juga pengen. Seru banget bisa loncat-loncatan, nyoba trick-trick baru," ujar Narash, malu-malu tapi antusias. 

Bagi Narash, BMX bukan sekadar olahraga. Itu adalah ekspresi diri, panggung kecil tempat ia melatih nyali dan menaklukkan rasa takut. 

Sejak usia 5 tahun, ia bahkan sudah ikut event komunitas seperti “Ngabuburide” Ramadan 2022, menempuh perjalanan sejauh ±7 kilometer dari Sukajadi ke Taman Pramuka, menjadi peserta termuda saat itu.

"Aku semangat terus soalnya pengen jago kayak Papa, terus bisa ikut lomba besar kayak X-Games."

Sejak saat itu, gowes jarak jauh jadi kegemarannya. Ia kerap mengayuh sepedanya dari Cimahi menuju Car Free Day Dago atau Taman Pandawa Bowl Skatepark di Pajajaran, Bandung. Semua dilakukan dengan pengawasan dan dukungan penuh dari ayah dan rekan komunitas.

Namun, jalan menjadi rider BMX cilik bukan tanpa luka. Trik-trik baru yang dilatih berulang kali tak jarang membuat tubuhnya lebam dan lutut memar.

"Paling susah itu kalau lagi belajar trick baru, sering jatuh. Sakit sih, tapi aku udah biasa. Jatuh, terus bangun lagi," ujar Narash.

Salah satu tantangan terbesarnya adalah saat pertama kali mencoba quarter ramp setinggi 1,7 meter.

"Aku sempat takut banget. Hampir sejam aku cuma berdiri di atas ramp, gak berani turun. Tapi Papa dan Ibu selalu bilang, 'Gak akan jatuh, pasti bisa,' dan benar, akhirnya aku bisa," kenangnya.

Rasa gugup juga kerap datang saat tampil di depan juri dan penonton.

"Aku tarik napas panjang, terus bilang ke diri sendiri, 'Narash pasti bisa!'," katanya sambil tersenyum.

Kini, dengan semangat dan dukungan penuh dari keluarganya, Narash terus menekuni dunia BMX. Ia tidak hanya ingin jadi jagoan lokal, tapi juga ingin berlaga di kancah nasional atau bahkan internasional.

"Narash memang punya jiwa petualang dan semangat eksplorasi. Yang penting buat kami, dia bahagia dan berkembang dengan caranya sendiri," kata Nissa.

Sementara anak-anak lain mungkin masih mencari-cari jati diri mereka, Narash sudah menemukan lintasan hidupnya dan ia mengayuh sepeda dengan mantap, penuh percaya diri, menembus batas demi batas yang ada.

Dan siapa tahu, suatu hari nanti, nama Narash Abraar Kaosgi akan terpampang di ajang X-Games, membawa nama Cimahi melesat tinggi lewat sepedanya yang melayang bebas di udara. (SAT)

Kamis, 26 Juni 2025

Solusi Sampah Plastik Cimahi, Dorongan 20 Mesin Pirolisis dan Regulasi yang Masih Mengganjal

Solusi Sampah Plastik Cimahi, Dorongan 20 Mesin Pirolisis dan Regulasi yang Masih Mengganjal

SURAT KABAR, CIMAHI - Dengan timbulan sampah harian mencapai 270 ton dari lebih dari 580 ribu jiwa penduduk, Kota Cimahi menghadapi tantangan serius dalam pengelolaan limbah. 

Namun, di balik tantangan itu, muncul secercah harapan dari data mengejutkan: rata-rata timbulan sampah warga Cimahi hanya 0,46 kilogram per jiwa per hari, jauh di bawah rata-rata nasional yang berada di angka 0,7 kilogram.

Ketua Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanusa) Kota Cimahi, Wahyu Dharmawan, menyebut angka ini sebagai modal awal yang menjanjikan.

“Ini adalah start yang bagus. Tinggal bagaimana pengelolaan sampah di Cimahi, baik dalam urusan pengurangan maupun penanganannya,” ujar Wahyu saat di konfirmasi, Kamis (26/6/25).

Menurutnya, untuk pengurangan sampah, Cimahi bisa mencontoh Daerah Istimewa Yogyakarta yang berhasil membangun jaringan bank sampah hingga tingkat Rukun Tetangga (RT), bukan lagi di tingkat Rukun Warga (RW). 

Sementara untuk penanganan, ia menekankan pentingnya optimalisasi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), kelompok masyarakat, serta pengurus bank sampah agar dapat menyelesaikan persoalan sampah non-residu dan non-B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) secara mandiri di wilayah masing-masing.

Salah satu solusi konkret yang telah diterapkan adalah pemanfaatan mesin pirolisis di Kelurahan Melong. Menurut Wahyu, mesin tersebut mampu mengolah hingga 500 kilogram sampah plastik per hari. 

Wahyu menjelaskan, satu RW di Cimahi mampu menyetor 250-300 kilogram sampah plastik terpilah per minggu. Dengan kapasitas itu, satu mesin pirolisis bisa melayani kebutuhan 10 hingga 15 RW.

“Mengingat Cimahi memiliki lebih dari 300 RW, kami memperkirakan urusan sampah plastik bisa ditanggulangi dengan sekitar 20 fasilitas pirolisis yang tersebar di setiap kelurahan,” katanya.

Lebih lanjut Wahyu menerangkan, pendekatan ini bukan sekadar menekan timbulan plastik dari hulu, tetapi juga meminimalkan volume sampah setelah diolah. Empat jenis plastik yang diproses melalui mesin pirolisis menghasilkan produk turunan yang jauh lebih padat.

“Untuk bobot 50 kilogram saja, awalnya menempati volume 1,8 meter kubik. Setelah diproses, volumenya hanya 0,05 meter kubik. Terjadi penyusutan 97 persen,” paparnya.

Dengan strategi ini, Wahyu memperkirakan volume ritase (jumlah angkutan) sampah dari Cimahi ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) bisa lebih efisien.

“Jika yang keluar dari Cimahi hanya residu dan B3, tanpa plastik, kemungkinan besar jatah ritase yang diberikan masih mencukupi,” ujarnya.

Manfaat lain dari pendekatan ini adalah terbukanya potensi pendapatan harian bagi para pengelola, sehingga mereka bisa mandiri dan lebih sejahtera.

Namun, upaya memperluas model pengelolaan sampah plastik ini ke seluruh kelurahan di Cimahi terganjal regulasi. Penanganan sampah dengan pendekatan thermal seperti pirolisis, menurut Wahyu, masih diwajibkan untuk memiliki izin UKL-UPL (Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan).

“Tantangannya adalah regulasi dari pusat. Semua penanganan sampah thermal harus punya UKL-UPL,” kata dia.

Ia mendorong agar Pemerintah Kota Cimahi memberikan ruang dan dukungan lebih besar agar proses perizinan dapat dilaksanakan dengan cermat, seksama, dan biaya yang terjangkau bagi para pengelola.

“Kalau UKL-UPL sudah dimiliki, duplikasi model pengelolaan seperti ini bisa langsung dilakukan oleh pengelola lain di tiap kelurahan,” tutup Wahyu.

Di sisi lain, Ketua RW 36 Kelurahan Melong, Rosyid menyatakan bahwa keberadaan mesin pirolisis tidak menimbulkan gangguan bagi lingkungan sekitar.

“Kegiatan yang dilakukan sejauh ini tidak mengganggu lingkungan, justru berdampak pada keberhasilan penanganan sampah plastik,” katanya. (SAT)

Cari Lapangan Olahraga di Cimahi? Ini 3 Tempat yang Lagi Ngehits!

Cari Lapangan Olahraga di Cimahi? Ini 3 Tempat yang Lagi Ngehits!

SURAT KABAR, CIMAHI - Kalau bicara soal Cimahi, biasanya orang langsung ingat dengan suasana kotanya yang adem dan dekat ke Bandung. Tapi ternyata, Cimahi punya sederet tempat olahraga yang lagi ngehits dan jadi langganan warga buat jaga kebugaran. 

Dari yang suka jogging santai sampai yang hobi olahraga berat, semua bisa nemu tempat favoritnya di sini. Yuk, kenalan sama tiga spot olahraga di Cimahi yang lagi naik daun!

1. Lapangan Arhanud – Jogging Adem di Tengah Kota

Berlokasi di Jalan Sriwijaya Raya, Lapangan Arhanud jadi tempat andalan banyak warga Cimahi buat olahraga pagi atau sore hari. Suasananya asri, rindang, dan udaranya lumayan segar meski berada di tengah kota. 

Area jogging track-nya cukup luas dan nyaman, cocok buat yang suka lari santai sambil dengerin musik atau sekadar jalan cepat bareng teman. Banyak juga komunitas yang ngumpul di sini, mulai dari pencinta sepeda, senam aerobik, sampai pecinta zumba yang suka goyang bareng di akhir pekan.

2. Lapangan Brigif 15/Kujang – Tempat Seru Buat Komunitas Aktif

Nah, kalau yang ini lokasinya ada di Jalan Kebon Rumput, Baros, Cimahi Tengah. Lapangan Brigif 15/Kujang bukan cuma luas, tapi juga punya vibe yang solid karena sering jadi tempat berkumpul berbagai komunitas olahraga. 

Mulai dari sepak bola, futsal, hingga kegiatan bela diri. Suasananya asyik banget, apalagi kalau datang pas sore menjelang malam, banyak aktivitas dan energi positif yang terasa. 

Di akhir pekan, lapangan ini juga ramai oleh warga yang ajak anak-anaknya bermain atau sekadar piknik kecil sambil nonton pertandingan bola lokal.

3. Lapangan Poral – Hidden Gem-nya Leuwigajah

Terakhir, ada Lapangan Poral yang terletak di Jalan Kihapit Barat, Leuwigajah, Cimahi Selatan. Meski nggak sebesar dua lapangan sebelumnya, tapi tempat ini punya pesona tersendiri. 

Lapangan Poral cocok buat olahraga ringan kayak jogging, main bulutangkis, atau sekadar senam pagi bareng ibu-ibu komplek. 

Yang menarik, suasananya tenang dan agak tersembunyi, bikin kegiatan olahraga terasa lebih privat dan nyaman. Banyak juga anak-anak muda yang manfaatin tempat ini buat latihan dance atau sekadar kumpul komunitas.

Kesimpulan:

Ternyata, Cimahi punya banyak pilihan tempat olahraga yang nggak kalah seru dibanding kota-kota besar lain. Lapangan-lapangan ini bukan cuma tempat buat keringetan, tapi juga jadi ruang publik yang mempertemukan komunitas dan menciptakan gaya hidup sehat. 

Jadi, kalau lagi suntuk atau pengen mulai rutin olahraga, coba aja mampir ke salah satu tempat tadi. Siapa tahu, kamu bisa nemu rutinitas baru yang bikin tubuh makin fit dan mood makin happy! (SAT)

Wali Kota Cimahi Sambut Antusiasme Pawai Tahun Baru Islam 1 Muharram


SURAT KABAR, CIMAHI – Ribuan warga Kota Cimahi memadati jalan-jalan utama saat mengikuti pawai dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharram 1447 Hijriah. Euforia keagamaan yang membuncah ini membuat arus lalu lintas di pusat kota lumpuh total. 

Namun, bagi Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, kemacetan bukan hal yang dikeluhkan justru jadi penanda bahwa semangat masyarakat dalam merayakan Tahun Baru Islam begitu luar biasa.

"Alhamdulillah, ini masih dalam rangkaian ulang tahun Cimahi. Kebetulan malam hari ini kita berkumpul di Masjid Agung, yang berada di Alun-Alun Kota Cimahi," ujar Ngatiyana saat ditemui di alun-alun Cimahi, Kamis (26/6/25).

Ia menegaskan bahwa peringatan 1 Muharram yang digelar Pemkot Cimahi bukan sekadar seremonial. Lebih dari itu, ada nilai-nilai spiritual yang hendak dibangun bersama masyarakat.

"Tahun Baru Islam atau 1 Muharram ini bukan hanya momentum tahunan, tapi momen untuk introspeksi diri, untuk menata hati, bagaimana langkah kita ke depan. Kita besarkan peringatan ini agar kita benar-benar bisa menjiwai makna hijrah," tuturnya.

Acara yang digelar di Alun-Alun Cimahi ini juga menghadirkan Kiai Haji Ubaidillah, yang memberikan tausiah kepada warga yang hadir. 

Ribuan warga dari berbagai penjuru kota berduyun-duyun datang, membawa spanduk, mengenakan pakaian serba putih, dan penuh semangat mengikuti arak-arakan pawai di sepanjang jalan protokol kota.

"Alhamdulillah, Cimahi macet total karena semuanya ikut pawai," kata Ngatiyana sambil tersenyum. 

"Ini justru lebih bagus. Lebih macet lebih bagus, karena itu berarti antusiasme masyarakat terhadap agama Islam sangat tinggi," sambungnya.

Yang menarik, pawai ini digelar bukan atas beban anggaran pemerintah, tetapi murni dari inisiatif warga yang ingin menyambut Tahun Baru Islam dengan sukacita. Pemkot Cimahi hanya memfasilitasi ruang dan koordinasi.

"Tidak ada anggaran dari pemerintah. Semua murni dari hati nurani masyarakat yang tulus memperingati Tahun Baru Islam. Ini inisiatif mereka sendiri. Artinya, masyarakat Cimahi memang cinta terhadap Islam," kata Ngatiyana penuh bangga.

Menurutnya, semangat kebersamaan seperti ini harus terus dirawat. Momentum hijrah, katanya, bukan hanya soal perpindahan waktu, tapi juga peningkatan kualitas hidup spiritual masyarakat.

"Alhamdulillah ya, masyarakat bersama-sama, semakin hijrah, semakin happy, dan insya Allah semakin dekat dengan ridho Ilahi. Semoga hidup kita makin berkah, makin agung, makin berarti,” tutup Ngatiyana.

Salah seorang peserta, Insan Mutia (14), warga Kelurahan Cimahi, mengaku antusias mengikuti pawai 1 Muharram. Menurut pelajar kelas 9 itu, momentum tahun baru Islam menjadi pengingat penting akan kebesaran ajaran Islam.

“Cimahi ini kota yang religius, jadi sudah semestinya kita menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan merayakan tahun baru Islam dengan meriah,” ujarnya.

Insan menyebut, peringatan ini menjadi sarana bagi masyarakat untuk kembali mengingat dan memahami makna Islam secara mendalam. Wajahnya tampak sumringah saat menyampaikan hal itu.

Ia mengikuti pawai bersama lima temannya. Ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti perayaan semacam ini.

“Sebelumnya belum pernah, karena dulu masih kecil dan takut. Tapi sekarang sudah berani. Ternyata peserta pawai juga ramah-ramah, saling menjaga satu sama lain,” tandas Insan. (SAT)

Rabu, 25 Juni 2025

Wakil Wali Kota Cimahi Ungkap Strategi Tangani 270 Ton Sampah Per Hari

Wakil Wali Kota Cimahi Ungkap Strategi Tangani 270 Ton Sampah Per Hari

SURAT KABAR, CIMAHI – Kota Cimahi tengah menghadapi darurat sampah. Lonjakan volume harian yang mencapai 270 ton tak hanya menyesakkan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), tetapi juga menjadi bom waktu yang mengancam lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudhistira, mengakui betapa peliknya persoalan ini. Dalam kunjungannya ke Bank Sumber Daya Sampah Induk di Kelurahan Melong, Jumat (20/6/2025), Adhitia menyebut penanganan sampah kini menjadi isu yang mendesak dan kompleks.

“Masalah sampah ini sedang jadi tren hari ini, dan cukup membuat kami, khususnya Pak Wali dan saya, pusing bagaimana menyikapinya agar tertangani dengan baik di Kota Cimahi,” ujar Adhitia.

Adhitia mengungkapkan, produksi sampah di Cimahi saat ini berkisar antara 250 hingga 270 ton per hari. Angka itu, menurutnya, sebetulnya masih tergolong bisa dikelola dengan optimal jika sistem berjalan baik dan regulasi tidak saling tumpang tindih.

“Untuk ukuran Kota Cimahi, volume produksi harian sebesar itu harusnya bisa dikelola lebih mudah. Tapi masalahnya, kita ini sering tersendat oleh aturan yang tumpang tindih,” katanya.

Namun, masyarakat tetap menuntut penyelesaian instan. “Mau nggak mau, masyarakat maunya sampah beres. Pokoknya beres,” tegasnya.

Pemerintah Kota Cimahi telah memberlakukan sistem pemilahan sampah berdasarkan jenis, seperti sampah organik yang diangkut setiap Senin dan Kamis. Namun, implementasi di lapangan kerap tidak sinkron.

“Misalnya, Pemkot menetapkan Senin dan Kamis untuk sampah organik, tapi di lapangan bisa beda-beda. Akhirnya jadwal pengangkutan tidak optimal, masyarakat terpaksa pisahkan sampah, tapi tidak terangkut. Ini yang jadi keluhan,” ujar Adhitia.

Adhitia menekankan perlunya konsensus internal di masyarakat, misalnya melalui sistem prelek di tingkat RT, RW, Pokmas, atau KSM. Menurutnya, persoalan sampah tak hanya teknis, tapi juga soal budaya.

“Orang tua kita dulu gali lubang, sampah dikubur, dibakar, jadi kompos. Beres. Nggak ada TBC atau gangguan paru-paru. Tapi begitu masuk manajemen modern, jadi rumit,” kata dia.

Ia bahkan menyinggung tragedi Leuwigajah, di mana tumpukan sampah longsor dan menewaskan ratusan orang.

“Sampah harus selesai di wilayah. Di masing-masing wilayah harus beres,” tandasnya.

Sebagai langkah konkret, ia menargetkan adanya TPA mini di setiap kelurahan, yang dilengkapi fasilitas sortir, pengelolaan organik, hingga teknologi pembakaran atau generator untuk residu.

“Harus lengkap. Di setiap wilayah harus rapi dan punya fasilitas pengelolaan,” katanya.

Keberadaan Bank Sampah seperti di Melong dinilainya sangat membantu menyelesaikan sebagian besar persoalan, terutama karena keterbatasan lahan di Cimahi.

“Kita nggak punya cukup lahan untuk bikin TPA di setiap wilayah. Ini sangat membantu,” ujar Adhitia.

Selain itu, Adhitia menyebut dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui pemberian enam alat insinerator patut diapresiasi, meski tetap perlu dikaji regulasinya.

“Kalau terlalu kaku soal aturan, ya nggak akan beres. Tapi juga tetap harus ikuti aturan main, apalagi kalau sudah masuk wilayah barang khusus,” tegasnya.

Ia berharap ada fleksibilitas dalam kebijakan untuk memberi ruang inovasi bagi para penggiat pengelolaan sampah.

“Kalau semua dilarang, ya repot. Masalah sampah nggak akan selesai-selesai,” tambahnya.

Ketua Perkumpulan Pengelola Sampah dan Bank Sampah Nusantara (Perbanusa) Kota Cimahi, Wahyu Dharmawan, menilai solusi konkret bisa dimulai dari fasilitas pengolahan di tingkat kelurahan.

“Mengingat ada lebih dari 300 RW di Cimahi, kami menduga pengelolaan bisa ditangani dengan 20 fasilitas seperti ini yang tersebar merata,” ujar Wahyu, saat dikonfirmasi melalui WhatsApp, Kamis (26/6/2025).

Wahyu menjelaskan, pihaknya memproses empat jenis plastik menjadi produk turunan yang mampu mengurangi volume secara signifikan. Dari 50 kg plastik yang sebelumnya memiliki volume 1,8 m³, setelah diproses hanya menjadi 0,05 m³ penyusutan hingga 97%.

“Kalau yang keluar dari Cimahi hanya residu dan B3, tanpa plastik, maka ritase angkutan yang tersedia bisa tetap mencukupi,” ujarnya.

Ia pun mendorong agar sistem ini diterapkan luas di seluruh kelurahan. Namun, tantangan terbesarnya tetap soal regulasi.

“Pendekatan thermal seperti insinerator itu wajib punya izin UKL-UPL. Pemkot harus memberi ruang dan mempermudah proses perizinan ini,” ujarnya.

Menurut Wahyu, sistem ini bukan hanya menyelesaikan persoalan sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi lokal.

“Dengan begitu, layanan ini bisa mandiri dan mensejahterakan sumber daya manusianya,” pungkasnya. (SAT)

Pendaftaran SD Negeri di Cimahi Ditutup, Orang Tua Resah Anak Gagal Masuk Sekolah karena KK Belum Setahun

Pendaftaran SD Negeri di Cimahi Ditutup, Orang Tua Resah Anak Gagal Masuk Sekolah karena KK Belum Setahun

SURAT KABAR. CIMAHI – Penutupan proses Penerimaan Siswa Baru (SPMB) untuk dua sekolah dasar favorit di Cimahi, SDN Cigugur Tengah dan SDN Cibabat Mandiri 1, menyisakan kegelisahan. Sejumlah orang tua murid kebingungan setelah anak mereka gagal diterima meski berkas hampir lengkap, hanya karena Kartu Keluarga (KK) belum mencapai masa satu tahun.

Pendaftaran resmi ditutup pada Rabu (19/6/2025) pukul 16.00 WIB. Hasil seleksi menunjukkan masih adanya kekurangan siswa di beberapa sekolah negeri, termasuk SDN Cigugur Tengah yang hanya menerima 29 siswa dari kuota 36 siswa. Di SDN Cibabat Mandiri 1, dari kuota 120 siswa, hanya 105 yang lolos seleksi.

Kepala SDN Cigugur Tengah yang juga merangkap sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SDN Cibabat Mandiri 1, Dewi Cahyanti, menyoroti sejumlah pertanyaan penting dari para orang tua.

“Apakah bagi siswa yang tidak lulus baik di sekolah pilihan satu maupun dua masih ada peluang untuk mendaftar di sekolah lain yang masih memiliki kuota? Kalau mengacu pada aturan, tidak bisa. Kemudian bagaimana nasib siswa yang KK-nya belum satu tahun? Apakah masih punya kesempatan?” ujar Dewi saat ditemui di SDN Cibabat Mandiri 1, Kamis (26/6/2025).

Menurut aturan Kementerian Pendidikan, KK harus diterbitkan minimal satu tahun sebelum mendaftar. Usia anak pun idealnya tujuh tahun. Aturan ini, kata Dewi, kerap menjadi ganjalan bagi warga yang baru pindah atau berpindah domisili karena alasan ekonomi dan sosial.

“Beberapa orang tua merasa berat kalau harus menyekolahkan anaknya ke swasta, karena keterbatasan biaya,” katanya.

Dewi menjelaskan, dari total 105 siswa yang diterima di SDN Cibabat Mandiri 1, 94 orang masuk melalui jalur domisili, sembilan siswa dari jalur afirmasi (pemegang KIP), dan dua orang dari jalur mutasi. Adapun 15 calon siswa lainnya tidak memenuhi syarat karena KK yang masih baru.

Selain itu, Dewi mengeluhkan masalah teknis pada sistem pendaftaran online. Hingga saat ini, akses akun sekolah untuk melihat hasil seleksi belum bisa dioptimalkan.

“Status kelulusan tidak bisa langsung terlihat di akun admin atau advisor. Kami harus mengetik nomor pendaftaran satu per satu, baru bisa tahu apakah siswa itu lulus atau tidak. Ini sangat menyulitkan,” ujarnya.

Kondisi ini, kata Dewi, membuat orang tua dan guru TK harus turun langsung membantu proses verifikasi data siswa, meski pendaftaran dilakukan secara online.

Pihak sekolah berharap Dinas Pendidikan Kota Cimahi memberikan kebijakan khusus bagi calon siswa dengan KK yang belum berusia satu tahun. Terlebih, pendaftaran secara luring sudah dihapuskan.

“Meski offline tidak ada, sekolah tetap membantu anak-anak yang tidak bersekolah TK untuk membuat akun online,” tegas Dewi.

Sementara itu, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan dimulai pada 14 Juli 2025 mendatang. Namun, bagi anak-anak yang gagal masuk SD negeri, satu-satunya pilihan adalah sekolah swasta yang tentunya memerlukan biaya tambahan. (SAT)

Disdik Cimahi Pastikan Siswa Tak Mampu Dapat Bantuan Meski Sekolah di Swasta

Disdik Cimahi Pastikan Siswa Tak Mampu Dapat Bantuan Meski Sekolah di Swasta

SURAT KABAR, CIMAHI - Keterbatasan daya tampung sekolah negeri di Kota Cimahi kembali menjadi sorotan publik. Lonjakan jumlah peserta didik baru tak sebanding dengan kapasitas yang tersedia di sekolah negeri, terutama pada jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Merespons hal ini, Dinas Pendidikan Kota Cimahi mendorong para orang tua untuk tidak ragu mempertimbangkan sekolah swasta sebagai alternatif.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Cimahi, Heni Tishaeni, menyebut persoalan ini sudah diprediksi sejak awal. Menurutnya, jumlah sekolah negeri memang jauh lebih sedikit dibanding sekolah swasta di wilayah tersebut.

“Kalau SMP di Cimahi itu ada 4.816 siswa di sekolah negeri, sisanya tersebar di sekolah swasta. Sedangkan untuk SD, mayoritas memang sekolah negeri. Dari 116 SD, sebanyak 91 merupakan SD Negeri,” ujar Heni saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Kamis (26/6/2025).

Meski demikian, Heni menegaskan bahwa pilihan masuk ke sekolah swasta bukan semata-mata karena tidak lolos ke negeri. Banyak orang tua memang sudah memiliki preferensi sejak awal.

“Enggak, sebetulnya. Kalau SD itu lihat saja. Kadang-kadang para orang tua memang dari awal sudah memilih sekolah swasta. Jadi bukan karena pindah ke negeri,” jelasnya.

Untuk jenjang SMP, lanjut Heni, sekolah negeri saat ini sudah penuh. Namun, kondisi di sekolah swasta masih bervariasi.

“Ada beberapa SMP swasta yang muridnya sudah penuh, tapi ada juga yang masih menunggu pendaftaran. Data lengkapnya masih kami rekap, nanti setelah proses selesai,” tuturnya.

Mengantisipasi desakan masyarakat agar anak masuk ke sekolah negeri, Dinas Pendidikan mengaku telah melakukan sosialisasi sejak awal. Salah satu pesan utamanya adalah agar orang tua tidak memaksakan pilihan.

“Kalau enggak diterima di negeri, ya masuk ke swasta. Untuk warga yang berasal dari keluarga kurang mampu, kami bantu pembayaran SPP-nya. Kalau masuk DTKS, bantuan itu diberikan,” ujar Heni.

Selain subsidi SPP, Dinas Pendidikan juga menyiapkan bantuan alat tulis bagi siswa kurang mampu yang bersekolah di swasta. Program ini akan mulai dijalankan tahun depan melalui skema Unit Dana Sekolah Bersubsidi (UDSB).

“Kita coba hitung, berapa sih yang bisa dibantu melalui UDSB di sekolah swasta. Ini akan disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” katanya.

Pemberian bantuan ini juga telah dikoordinasikan dengan Dinas Sosial. Data keluarga penerima bantuan sosial (bansos) dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) akan dijadikan acuan utama.

“Kita padankan data dari Dinsos. Yang biasanya menerima bansos, itu juga yang kami bantu SPP-nya,” sambung Heni.

Di tengah proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini, Dinas Pendidikan juga menghadapi keluhan terkait sistem seleksi digital yang dinilai menyulitkan. Heni pun menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat.

“Kami mohon maaf atas kekeliruan sistem. Tapi insyaallah tidak ada yang dirugikan. Yang sebelumnya merasa diterima tapi ternyata tidak, itu karena sistem menunjukkan dia memang tidak lolos,” jelasnya.

Heni menekankan bahwa penerimaan siswa harus berpegang pada prinsip keadilan. Jika sistem dilanggar, maka itu sama saja merebut hak siswa lain yang lebih layak.

“Kami harus sesuaikan dengan sistem yang benar. Kalau tidak, justru akan merugikan pihak lain yang sebenarnya lebih berhak,” ujarnya.

Masukan masyarakat juga menjadi catatan penting bagi Dinas Pendidikan, terutama terkait keberadaan siswa dari luar daerah yang ingin bersekolah di Cimahi.

“Kita akan pertimbangkan masukan masyarakat. Tapi prinsipnya, prioritas tetap warga Cimahi. Jumlah sekolah terbatas, sementara penduduk kita padat,” tegasnya.

Terkait syarat domisili minimal satu tahun yang kerap dikeluhkan, Heni mengakui bahwa aturan itu merupakan kebijakan dari Kementerian Pendidikan.

“Itu dari Kementerian. Tapi kami akan teruskan aspirasi warga agar ke depan bisa lebih fleksibel, mungkin cukup enam bulan atau bahkan kurang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Pemerintah Kota Cimahi siap mengevaluasi kebijakan yang menjadi kewenangan daerah, dan menyampaikan aspirasi masyarakat untuk aturan yang berada di tangan pemerintah pusat.

“Kami akan teruskan ke Kementerian Pendidikan agar tahun depan tak ada lagi kendala seperti ini,” tandasnya. (SAT)

Gubernur Jabar Siap Kumpulkan Kepala Daerah Bahas Perluasan Cimahi

Gubernur Jabar Siap Kumpulkan Kepala Daerah Bahas Perluasan Cimahi

SURAT KABAR, CIMAHI – Kepadatan penduduk yang terus meningkat di Kota Cimahi, dengan populasi lebih dari 600 ribu jiwa yang tinggal di atas lahan sempit seluas hanya tiga kecamatan, menimbulkan urgensi serius soal penataan ruang wilayah di kawasan Bandung Raya.

Wacana perluasan wilayah administratif Kota Cimahi yang selama ini menjadi perbincangan, kini tampaknya mulai bergerak ke tahap yang lebih konkret. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi pertemuan para kepala daerah guna membahas rencana tersebut secara teknis dan politis.

Pertemuan yang direncanakan akan digelar pada awal Juli 2025 ini bakal melibatkan Wali Kota Cimahi, Wali Kota Bandung, Bupati Bandung, dan Bupati Bandung Barat. Forum ini dinilai sebagai langkah awal penting dalam mendorong realisasi perluasan wilayah Cimahi.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengatakan pihaknya tengah menunggu penjadwalan resmi dari Gubernur Dedi untuk membahas kelanjutan wacana yang dianggap strategis tersebut. Ia juga menyebutkan bahwa dukungan dari para kepala daerah lainnya sudah mulai menguat.

"Mudah-mudahan nanti, tinggal menunggu jadwal beliau saja," ucap Ngatiyana saat ditemui di Cimahi, Rabu (25/6/2025).

Menurutnya, sinyal positif sudah datang dari beberapa kepala daerah sekitar. Ini menjadi dorongan moral sekaligus politik bagi Pemkot Cimahi untuk menyuarakan kembali urgensi pelebaran wilayah administrasi.

"Betul mendukung (Gubernur Jabar), Bupati (Kabupaten Bandung) juga mendukung, Kota Bandung juga mendukung. Jadi Cimahi yang begitu kecil hanya tiga kecamatan 15 kelurahan, penduduknya 600 ribu, mudah-mudahan rekan-rekan kita kepala daerah bisa mengulurkan bantuan," katanya.

Ngatiyana menegaskan, perluasan wilayah menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi tekanan populasi yang terlalu padat. “Salah satunya itu tadi, bagaimana sih Kota Cimahi agar tidak terlalu padat, tentunya perlu adanya wilayah. Mudah-mudahan bisa tercapai,” ucapnya berharap.

Gubernur Dedi Mulyadi turut menegaskan dukungannya secara langsung dalam Sidang Paripurna Hari Jadi ke-24 Kota Cimahi yang digelar pada Sabtu (21/6/2025). Ia menyebut, Pemerintah Provinsi Jawa Barat siap mengawal pembahasan teknis dan politis terkait perluasan wilayah Cimahi.

"Saya mendukung (perluasan wilayah Cimahi). Jadi mungkin abis ini, awal Juli mungkin ada pertemuan Wali Kota Cimahi, Kota Bandung, Bupati Kabupaten Bandung dan KBB untuk membicarakan," ungkap Dedi.

Rencana ini disebut sebagai bagian dari upaya pemerintah provinsi dalam menyikapi persoalan tata ruang dan ketimpangan pertumbuhan penduduk di kawasan perkotaan Bandung Raya yang semakin kompleks. (SAT) 

Jumat, 20 Juni 2025

Hari Jadi ke-24, Ngatiyana Bicara Fakta dan Tantangan Cimahi ke Depan

Hari Jadi ke-24, Ngatiyana Bicara Fakta dan Tantangan Cimahi ke Depan

SURAT KABAR, CIMAHI – Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, memanfaatkan peringatan Hari Jadi ke-24 Kota Cimahi sebagai panggung pernyataan sikap. 

Dalam upacara resmi di Lapangan Alun-Alun Cimahi, Sabtu, 21 Juni 2025, ia menegaskan bahwa ulang tahun kota bukan sekadar ritual tahunan. 

“Ini adalah momentum untuk berkaca dan menuntaskan pekerjaan rumah yang belum selesai,” kata Ngatiyana di hadapan para pejabat, tokoh masyarakat, dan pelajar.

Dengan tema “Kolaborasi Lintas Generasi”, Ngatiyana menyebut momen ini sebagai ajakan kolektif bagi seluruh warga untuk ikut membenahi Cimahi. Tantangannya tak kecil. 

Mulai dari kemiskinan ekstrem, pengangguran terbuka, stunting, hingga banjir, disebutnya sebagai masalah mendesak yang menanti solusi nyata.

Ngatiyana tak berhenti di situ. Ia memaparkan lima prioritas pembangunan strategis Kota Cimahi untuk lima tahun ke depan. Isinya mencakup pemerataan pendidikan, peningkatan kualitas kesehatan, pengembangan UMKM, pembangunan infrastruktur, serta pemenuhan standar layanan publik di bidang pendidikan, ketertiban, dan kebencanaan.

“Keterbatasan sumber daya bukan alasan untuk berhenti. Justru kolaborasi antargenerasi menjadi kekuatan sosial terbesar kita,” ujarnya.

Ngatiyana juga menggarisbawahi posisi unik Cimahi: kota kecil dengan hanya tiga kecamatan, namun sarat keberagaman etnis dan sejarah militer. Sekitar 30 persen wilayahnya didominasi kawasan militer.

 “Ini tantangan, tapi juga potensi. Cimahi adalah miniatur Indonesia,” katanya.

Ia menyebut tumbuhnya industri kreatif digital sebagai bukti bahwa Cimahi punya daya saing yang mulai menonjol. 

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan pentahelix antara pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media.

“Pembangunan hanya akan berhasil bila dijaga bersama. Cimahi butuh ketenangan sosial, sinergi, dan ruang partisipasi warga yang luas,” kata Ngatiyana. 

Ia menutup pidato dengan ajakan optimistis. 

“Mari rapatkan barisan. Cimahi bisa jadi kota yang unggul, aman, nyaman, dan produktif," tutup Ngatiyana. 

Wisatawan Asal Jabar Tertinggi di Indonesia, Tapi Bogor Justru Belum Maksimalkan Potensi Wisata Masuk

Wisatawan Asal Jabar Tertinggi di Indonesia, Tapi Bogor Justru Belum Maksimalkan Potensi Wisata Masuk

SURAT KABAR - Kabupaten Bogor tercatat sebagai daerah asal wisatawan domestik (Wisatawan Nusantara/Wisnus) tertinggi di Indonesia menurut data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), April 2025.

Meski mencatat 3,50 juta perjalanan keluar daerah, data itu justru membuka pertanyaan besar: bagaimana dengan potensi wisatawan yang masuk ke Bogor?

Provinsi Jawa Barat memimpin pergerakan wisata domestik nasional dengan total 24,12 juta perjalanan, atau setara 18,76 persen dari total perjalanan Wisnus nasional. 

Kabupaten Bogor menjadi kontributor terbesar dengan 3,50 juta perjalanan, disusul Kabupaten Bekasi (2,62 juta) dan Kota Bekasi (2,10 juta). 

Namun, data tersebut hanya mencerminkan mobilitas keluar masyarakat, bukan kunjungan wisatawan ke daerah tersebut.

Plt Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kabupaten Bogor, Ria Marlisa, mengkritisi metode pencatatan BPS yang dinilai belum menyentuh potensi masuknya wisatawan.

“Dari data BPS kan hanya mencatat yang kita keluar saja. Tapi belum mencatat yang ke luar ke kita,” kata Ria saat ditemui di Pakansari, Jumat (20/6/2025).

Padahal menurut Ria, Kabupaten Bogor terutama kawasan Puncak menjadi magnet kuat bagi wisatawan dari luar daerah.

“Jadi kami informasikan, dari luar pun banyak yang datang ke Kabupaten Bogor. Tiap libur panjang atau akhir pekan, ribuan orang datang,” tegasnya.

Kondisi ini memperlihatkan adanya gap antara data resmi dan realitas di lapangan, yang pada akhirnya bisa memengaruhi arah kebijakan pengembangan pariwisata lokal. 

Di tengah euforia angka kunjungan keluar, pemerintah daerah justru harus membenahi strategi menarik wisatawan masuk.

Ria menjelaskan bahwa pihaknya telah mengupayakan sejumlah langkah untuk memperkuat daya tarik wisata lokal. Salah satunya adalah melalui Festival Desa Wisata dalam rangkaian acara Kabgorfest 2025.

“Festival desa wisata itu untuk menginformasikan ke masyarakat bahwa ada titik-titik tertentu di desa yang bahkan sudah sampai ke luar negeri pameran desa wisatanya,” ungkapnya.

Upaya lain yang dilakukan mencakup mendukung desa-desa yang memiliki potensi sejarah dan edukasi untuk menjadi destinasi wisata, serta merapikan situs-situs cagar budaya agar layak dikunjungi.

“Sehingga itu bisa menjadi objek wisata budaya juga. Insya Allah bisa lebih diperkenalkan lagi,” ujar Ria.

Hingga pertengahan Mei 2025, Ria mengklaim sudah ada 4–5 juta pengunjung yang masuk ke Kabupaten Bogor. Targetnya, kunjungan wisata bisa mencapai 13 juta hingga akhir tahun.

“13 Juta, data sekarang ini hampir 4-5 juta. Ini kan sudah sampai pertengahan Mei ya, jadi biasanya pertengahan tahun kalau kita targetkan 13 juta berarti sudah ada 50 persennya tercapai,” katanya.

Data ini menunjukkan antusiasme masyarakat untuk berwisata sangat tinggi baik keluar maupun masuk Bogor. Namun, absennya data wisatawan masuk dari catatan resmi BPS menjadi catatan penting bagi validitas perencanaan pariwisata. 

Ke depan, sinkronisasi data dan penguatan destinasi lokal akan menjadi kunci bagi Bogor agar tak hanya menjadi penyumbang wisatawan, tapi juga tujuan wisata utama. (SAT)

Rotasi 45 Pejabat di Kabupaten Bogor, Sorotan Publik: Akselerasi Pembangunan atau Mutasi Rutin?

Langkah Bupati Bogor Rudy Susmanto melantik 45 pejabat eselon III dan IV pada Kamis (19/6) malam.

SURAT KABAR - Langkah Bupati Bogor Rudy Susmanto melantik 45 pejabat eselon III dan IV pada Kamis (19/6) malam di Pendopo Bupati, Cibinong, menimbulkan pertanyaan publik: adakah urgensi strategis di balik gelombang rotasi tersebut, atau ini hanya sebatas formalitas birokrasi rutin?

Pelantikan yang digelar secara seremonial itu membawa narasi besar percepatan pembangunan infrastruktur dan penyegaran organisasi. 

Namun, sejumlah pengamat dan kalangan internal birokrasi mempertanyakan efektivitas mutasi ini dalam menjawab berbagai tantangan nyata di lapangan, mulai dari kemacetan pembangunan fisik, tata ruang yang semrawut, hingga pengelolaan lingkungan hidup yang belum optimal.

“Kita selesai melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah janji pada eselon tiga dan empat sejumlah 45 orang,” kata Rudy di hadapan pejabat yang baru dilantik.

“Tentunya namanya mutasi, rotasi, promosi jabatan sesuatu hal yang biasa dalam sebuah pemerintahan untuk penyegaran organisasi,” sambung dia.

Penekanan Bupati agar para pejabat yang dilantik mampu mengemban amanah besar menjadi catatan penting. 

Dengan penduduk hampir 6 juta jiwa, Kabupaten Bogor menyimpan kompleksitas tata kelola yang memerlukan figur birokrat profesional dan solutif.

“Mudah-mudahan pejabat yang dilantik menjadi pejabat yang amanah dan bisa menjalankan amanah hampir 6 juta jiwa masyarakat di Kabupaten Bogor," ucap Rudy menutup arahannya.

Namun, di tengah pesan normatif itu, publik menanti langkah konkret dari para pejabat baru yang kini mengisi jabatan strategis di bidang infrastruktur, kesehatan, lingkungan, hingga perpajakan.

Dari daftar nama, terlihat fokus dominan ada pada sektor Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), seperti posisi Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, Kepala UPT Infrastruktur Jalan dan Jembatan di berbagai wilayah, serta Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan.

Misalnya, pengangkatan Ujang Supardi sebagai Kepala Bidang Pemeliharaan Jalan dan Jembatan, dan Heru Haerudin serta Aldino Putra Perdana masing-masing sebagai Kepala UPT Infrastruktur Wilayah II dan V, menjadi tumpuan di tengah banyaknya keluhan masyarakat soal kondisi jalan rusak di berbagai kecamatan.

Namun demikian, tantangan utamanya bukan hanya pada kualitas fisik infrastruktur, tapi juga transparansi dalam perencanaan anggaran dan penyerapan APBD.

Daftar Panjang Pejabat Baru

Berikut sejumlah nama yang kini menduduki jabatan strategis:

  • Edy Mulyadi – Sekretaris Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan

  • Gantara Lenggana – Sekretaris Dinas PUPR

  • Riri Agustina Lubis – Kabid Penegakan Hukum dan Pengelolaan Limbah B3, DLH

  • Harry Hazarul Akbar – Kabid Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik, Bakesbangpol

  • Irman Gapur, SKM – Sekretaris Dinas Kesehatan

  • dr. Agus Fauzi – Wakil Direktur Pelayanan, RSUD Cileungsi

  • Delliane Ukman (Nunie) – Kabid Pendataan dan Penilaian, Badan Pengelolaan Pendapatan Daerah

  • Bambang Edi Santoso – Kabag TU RSUD Ciawi

  • dan 37 lainnya...

Sementara itu, banyak jabatan lainnya tersebar di kecamatan dan unit pelayanan teknis (UPT), termasuk penguatan sektor pelayanan perpajakan, dengan pengangkatan sejumlah kepala UPT dan kasubag di wilayah seperti Caringin, Citeureup, dan Leuwiliang.

Publik kini menunggu langkah nyata dari pelantikan ini. Sebab, tanpa target kinerja yang transparan dan evaluasi periodik, mutasi semacam ini rawan hanya menjadi mobilisasi jabatan tanpa dampak riil.

Tidak cukup hanya mengangkat pejabat. Masyarakat Kabupaten Bogor butuh pembuktian apakah para birokrat ini sekadar mengisi kursi, atau benar-benar menjalankan perannya dalam membawa perubahan? (SAT)

Kawasaki KLX230 SHERPA vs KLX230 Biasa: Mana yang Lebih Cocok Buat Petualang Sejati?

               Kawasaki KLX230 SHERPA vs KLX230 Biasa: Mana yang Lebih Cocok Buat Petualang Sejati?

SURAT KABAR - Buat penggemar motor trail, nama Kawasaki KLX230 pasti sudah tidak asing lagi. Motor ini dikenal tangguh, ringan, dan cocok untuk melibas medan off-road maupun aspal. 

Namun, sejak hadirnya Kawasaki KLX230 S dan KLX230 SE SHERPA, banyak yang mulai bertanya-tanya: sebenarnya apa perbedaan antara KLX230 SHERPA vs KLX230 biasa?

Keduanya memang lahir dari basis yang sama, namun punya karakter yang cukup berbeda. Nah, biar tak salah pilih, yuk kita kupas satu per satu!

1. Desain dan Ergonomi

Perbedaan paling mencolok dari KLX230 SHERPA dan KLX230 biasa bisa dilihat dari ergonomi dan dimensi. SHERPA tampil dengan postur yang lebih ramah bagi pengendara pemula ataupun rider bertubuh tidak terlalu tinggi. 

Tinggi jok KLX230 SHERPA ada di angka 830 mm, lebih rendah dari KLX230 standar yang mencapai 885 mm. Ground clearance-nya pun sedikit lebih pendek, membuat kaki lebih mudah menapak ke tanah saat berhenti.

Dari segi desain, KLX230 SHERPA tampil dengan lampu depan LED, panel instrumen digital, dan tampilan modern yang tetap mempertahankan aura trail sejati. Sementara KLX230 biasa lebih mengarah ke desain klasik yang fungsional dan tahan banting.

2. Performa Mesin

Kedua motor ini sama-sama dibekali mesin 233cc, 1 silinder, SOHC, berpendingin udara. Mesin ini menghasilkan tenaga sekitar 19 PS dan torsi 19,8 Nm. Jadi secara spesifikasi teknis mesin, keduanya nyaris identik.

Namun, karena KLX230 SHERPA didesain lebih untuk kebutuhan dual purpose (aspal dan tanah), setelan suspensi dan mapping injeksinya sedikit berbeda. SHERPA cenderung memberikan kenyamanan lebih di jalan raya, sedangkan KLX230 biasa lebih “liar” dan responsif saat diajak off-road berat.

3. Suspensi dan Handling

Suspensi depan KLX230 SHERPA sedikit lebih empuk dibandingkan versi standarnya. Hal ini dimaksudkan untuk memberi performa lebih nyaman di jalan aspal, terutama saat berkendara jarak jauh.

Tapi buat yang suka jumping atau jalur ekstrem, KLX230 biasa lebih siap karena travel suspensinya lebih panjang dan setelannya lebih keras.

Untuk urusan bobot, SHERPA sedikit lebih berat akibat tambahan fitur dan dimensi yang sedikit lebih padat. Namun ini justru memberikan kestabilan saat diajak touring atau perjalanan jauh.

4. Fitur Tambahan

Kelebihan KLX230 SHERPA ada pada fitur-fitur modern yang lebih mendukung kenyamanan berkendara harian, seperti sistem injeksi yang sudah disesuaikan untuk riding ringan, lampu LED hemat daya, dan instrument cluster digital yang informatif.

KLX230 biasa unggul di kesederhanaan dan durabilitas. Minim fitur elektronik membuatnya lebih tahan banting dan mudah perawatan ideal untuk yang sering main lumpur atau adventure di lokasi terpencil.

Mana yang Harus Dipilih?

Kalau kamu mencari motor trail serba bisa, nyaman dipakai harian tapi tetap bisa diajak jalan tanah, KLX230 SHERPA adalah pilihan yang pas. 

Tapi jika lebih condong ke off-road murni, penuh tantangan, dan suka eksplor jalur liar, KLX230 biasa lebih cocok.

Pada akhirnya, semua tergantung pada kebutuhan dan gaya berkendara masing-masing. Keduanya sama-sama tangguh, tapi punya pendekatan yang berbeda. (SAT)

Kawasaki KLX230 SHERPA Resmi Dirilis di PRJ 2025, Ini Spesifikasi dan Harganya!

Kawasaki KLX230 SHERPA Resmi Dirilis di PRJ 2025, Ini Spesifikasi dan Harganya!

SURAT KABAR - Jakarta Fair 2025 kembali menjadi panggung besar bagi para pabrikan otomotif, dan tahun ini, PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) sukses mencuri perhatian lewat peluncuran motor trail terbaru mereka, Kawasaki KLX230 SHERPA.

Motor ini hadir sebagai anggota baru keluarga KLX, namun dengan pendekatan yang jauh lebih adaptif, modern, dan siap diajak bertualang ke medan yang lebih menantang.

KLX230 SHERPA: Pendatang Baru yang Bukan Kaleng-Kaleng

Mengusung DNA motor petualang, Kawasaki KLX230 SHERPA bukan cuma sekadar motor trail biasa. Ia dirancang bukan hanya untuk penyuka medan ekstrem, tapi juga bagi rider yang ingin tampil stylish di jalanan kota maupun lintasan berbatu.

Kehadirannya menjadi highlight utama di booth Kawasaki selama Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2025, membuktikan bahwa brand asal Jepang ini tak main-main dalam merespons kebutuhan pasar yang haus akan kendaraan dual purpose yang tangguh namun tetap nyaman.

Spesifikasi Kawasaki KLX230 SHERPA: Kombinasi Power dan Kontrol

Dari sektor dapur pacu, KLX230 SHERPA dibekali mesin 233 cc, SOHC, 2 katup, berpendingin udara. Teknologi fuel injection dan starter elektrik hadir sebagai fitur standar, menegaskan kalau motor ini bukan cuma tangguh, tapi juga praktis.

Mesin Bertenaga, Tapi Nggak Ganas

Karakter mesinnya dikembangkan untuk memberikan torsi kuat pada putaran rendah hingga menengah. Ini penting banget, terutama saat harus melewati tanjakan terjal, lumpur, atau bebatuan besar. Jadi, buat yang sering riding ke pegunungan atau jalur off-road, motor ini bisa jadi soulmate baru.

Transmisi 6-percepatan dengan kombinasi gear final 45/14 bikin setiap perpindahan gigi terasa smooth tapi tetap bertenaga. Sensasi berkendaranya: gesit, ringan, tapi tetap punya tenaga dorong saat dibutuhkan.

Suspensi Long-Travel: Santai Hadapi Guncangan

Suspensi juga jadi nilai jual utama. Di bagian depan, disematkan suspensi dengan travel 200 mm, sementara bagian belakang punya travel 223 mm. Kombinasi ini bikin KLX230 SHERPA tetap nyaman walau harus melibas jalanan bergelombang atau penuh kerikil.

Rangka berbahan baja tensile tinggi dengan konfigurasi perimeter frame membuat motor tetap kokoh, stabil, dan punya daya tahan ekstra untuk pemakaian ekstrem jangka panjang.

Desain Adaptif: Siap Jelajah, Tetap Bergaya

Kawasaki paham bahwa fungsi aja nggak cukup di zaman sekarang. Rider juga pengin tampil keren, dan desain KLX230 SHERPA menjawab hal itu.

Dimensi Ergonomis, Ban Tubeless, dan Setang Tapered

Motor ini punya ketinggian jok 845 mm, ideal untuk pengendara Asia Tenggara. Desain kursi yang ramping bikin kaki lebih mudah menapak tanah, terutama saat berhenti di tanjakan atau medan miring.

Velg jari-jari berukuran 21 inci di depan dan 18 inci di belakang kini mendukung ban belakang tubeless upgrade penting buat pengendara yang nggak mau ribet saat ban bocor di tengah hutan.

Setangnya berbahan aluminium model tapered, ringan tapi kuat. Stabilitas saat belok atau menghindar di jalur sempit pun makin terjaga.

Shroud Ramping, Warna Earth Tone, dan Fitur Proteksi

Secara visual, motor ini tampil tangguh lewat shroud ramping dan palet warna natural yang khas motor adventurer. Ada juga pelindung mesin skid plate aluminium dan hand guard berbahan metal, yang memberi kesan siap tempur tapi tetap rapi.

Fitur Canggih: Motor Trail Masuk Era Digital

Satu hal yang bikin KLX230 SHERPA beda dari motor trail konvensional adalah sentuhan teknologinya. Motor ini sudah dilengkapi instrumen digital lengkap dengan konektivitas Bluetooth.

Melalui aplikasi Rideology The App, pengendara bisa memantau:

  • Voltase baterai

  • Log GPS perjalanan

  • Riwayat kecepatan

  • Pengingat servis berkala

Fitur ini sebelumnya lebih umum ditemukan di motor sport premium atau adventure touring besar. Tapi kini, hadir juga di motor trail berkapasitas 230 cc.

Harga dan Ketersediaan: Sudah Bisa Dibeli Sekarang

Kawasaki KLX230 SHERPA versi 2026 sudah resmi dijual dengan harga Rp 59,9 juta OTR Jakarta. Motor ini sudah tersedia di semua jaringan dealer resmi Kawasaki di Indonesia.

Dengan harga yang cukup bersaing di kelasnya, motor ini menawarkan value lebih lewat fitur, teknologi, dan desain yang modern.

Deretan Motor Lain yang Hadir di Booth Kawasaki

Tak hanya SHERPA, Kawasaki juga menurunkan berbagai jagoan lainnya di Jakarta Fair 2025. Total ada lebih dari 15 unit display dari berbagai lini produk:

  • KLX150 SE+

  • KLX230 S & KLX230 SM

  • Ninja ZX-4RR

  • Ninja ZX-10R

  • Model retro W175

  • Motor listrik Z e-1

Buat para pengunjung yang doyan eksplor teknologi baru, Kawasaki Z e-1 hadir sebagai gambaran masa depan motor listrik yang tidak cuma ramah lingkungan tapi juga tetap seru dikendarai.

Aktivitas Seru di Booth Kawasaki

Selain bisa lihat-lihat motor, pengunjung booth Kawasaki juga bisa ikut serta dalam Simulator Challenge yang diadakan setiap akhir pekan selama PRJ berlangsung.

Nggak tanggung-tanggung, ada hadiah menarik yang bisa dibawa pulang jika berhasil meraih skor tinggi di game simulasi berkendara.

Pembelian suku cadang resmi, konsultasi produk langsung, serta interaksi dengan tim teknis Kawasaki jadi nilai tambah buat pengunjung yang ingin tahu lebih dalam tentang produk-produk yang ditampilkan.

KLX230 SHERPA Bukan Sekadar Motor Trail

Dengan peluncuran KLX230 SHERPA, Kawasaki kembali membuktikan bahwa mereka bukan hanya fokus pada performa, tapi juga pengalaman pengguna secara keseluruhan. 

Desain adaptif, fitur digital, dan mesin yang mumpuni menjadikannya sebagai motor trail modern yang siap menghadapi tantangan medan ekstrem maupun kebutuhan harian.

Buat yang cari motor trail dengan kombinasi antara fungsi, gaya, dan teknologi, Kawasaki KLX230 SHERPA layak masuk dalam daftar incaran. 

Apalagi dengan harga yang relatif kompetitif di kelasnya, motor ini punya potensi besar untuk menjadi bintang baru di jalur-jalur off-road Indonesia. (SAT)

Bukan Sekadar Ulang Tahun, Wali Kota Cimahi Ngatiyana Soroti Kinerja ASN

Bukan Sekadar Ulang Tahun, Wali Kota Cimahi Ngatiyana Soroti Kinerja ASN

SURAT KABAR, CIMAHI - Momentum Hari Jadi Kota Cimahi ke-24 disoroti sebagai ajakan serius untuk refleksi dan perbaikan kinerja aparatur sipil negara (ASN), bukan sekadar perayaan seremonial tahunan. Pesan ini ditegaskan langsung oleh Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, dalam kegiatan tafakur yang digelar di Masjid As-Salaam Kompleks Pemkot Cimahi, Jumat (20/6/2025).

Kegiatan yang dihadiri jajaran ASN dan diisi tausiyah oleh DR. H. Komarudin Khalil, M.Ag., itu menjadi ruang evaluasi internal, menyusul tantangan kian kompleks yang dihadapi Kota Cimahi dalam memasuki usia ke-24 tahun.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana menekankan bahwa peringatan hari jadi bukanlah momen seremonial biasa, melainkan ruang introspeksi mendalam bagi seluruh jajaran birokrasi di Pemkot Cimahi.

"HUT Kota Cimahi bukan sekadar seremonial tahunan. Tetapi menjadi momentum bagi kita semua, khususnya para aparatur sipil negara untuk merenungi perjalanan Kota Cimahi sejak berdirinya hingga saat ini. Serta menguatkan kembali tekad kita dalam mengabdi dan melayani masyarakat dengan sepenuh hati," ujar Ngatiyana.

Lebih lanjut, ia menantang para ASN untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang komitmen dan tanggung jawab dalam menjalankan tugas.

"Apakah kita telah benar-benar menjalankan amanah jabatan dengan jujur, profesional, dan penuh tanggung jawab? Apakah kita sudah memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat? Apakah kita telah menjaga integritas dan loyalitas sebagai ASN di bawah naungan Pemerintah Kota Cimahi?" ucapnya.

Meski berusia muda, Kota Cimahi tidak lepas dari persoalan perkotaan yang rumit: infrastruktur, kemacetan, birokrasi pelayanan publik yang belum optimal, hingga soal transparansi anggaran. Dalam konteks inilah, Ngatiyana menyebut, semangat kolaborasi dan pembaruan etos kerja menjadi penting.

"Kota Cimahi ke depan dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh ASN untuk menjadikan momen ini sebagai titik tolak untuk menguatkan kembali semangat kolaborasi, meningkatkan kinerja, serta membangun budaya kerja yang bersih, disiplin, melayani dan juga responsif," ujarnya.

Pernyataan ini memperlihatkan pengakuan implisit atas masih adanya gap antara harapan masyarakat dan kualitas pelayanan publik yang diberikan. Di tengah harapan mewujudkan Kota Cimahi yang "mantap dan semakin hepi", menurut visi lima tahun mendatang, pemerintah juga dituntut untuk bersikap terbuka terhadap kritik dan mempercepat pembenahan internal.

Di akhir arahannya, Wali Kota menegaskan pentingnya solidaritas antar lembaga dan individu di lingkungan Pemkot Cimahi agar perbaikan tak berhenti pada level wacana atau slogan belaka.

"Marilah kita bergandeng tangan saling eratkan persaudaraan serta kebersamaan di antara kita. Semoga ridho serta pertolongan Allah SWT selalu menyertai kita guna menuju kehidupan kita yang lebih baik juga sejahtera," tandasnya. (SAT)